Selasa, 17 Mei 2016

Alasan Menyedihkan Gagal Memahami Syiah

Syiah adalah salah satu madzhab Islam yang diakui oleh mayoritas ulama besar dan otoritatif dalam Islam (termasuk ulama besar Indonesia, misalnya, lihat di sini) dalam beberapa konferensi ulama internasional: setidaknya sejak 1950-an digagas oleh Syaikh Mahmud Syaltut dan para ulama besar al-Azhar (lihat: taghrib.org), Deklarasi Amman 2005 (lihat: www.ammanmessage.com), Deklarasi Makkah 2006, hingga Deklarasi Bogor 2007.

Namun, ironisnya, Syiah menjadi salah satu madzhab Islam yang sering kali gagal dipahami oleh sebagian umat Islam, sehingga kerap dituduh sesat dan penganutnya mendapat diskriminasi dan bahkan kekerasan oleh saudaranya se-Muslim. Berdasarkan amatan penulisnya, tulisan ini hendak memaparkan beberapa penyebab yang menjadikan sebagian umat Islam gagal memahami Syiah.
Pertama, Syiah gagal dipahami karena ilmu mereka tentang Syiah adalah ilmu per-konon-an. Tahu syiah dari konon katanya. Mereka mengetahui dan memahami Syiah justru dari “konon-konon” yang tak memiliki jejak dan landasan naqly maupun aqly, melainkan sebatas selentingan-selentingan yang tak jelas sumbernya.
Kedua, Syiah gagal dipahami karena ilmu mereka tentang Syiah didapat dari orang atau buku non-Syiah atau bahkan pembenci Syiah. (Ingat, di zaman nabi terdapat para pembenci Ahlulbait Nabi SAW atau Syiah Ali). Sehingga, ilmunya tentang Syiah datang dari sumber sekunder yang belum valid kebenarannya atau bahkan berdasarkan dari fitnah-fitnah para pembenci Syiah. Oleh karena itu, penulis menyarankan bagi Anda yang ingin mengetahui Syiah dari ulama dan buku Syiah sendiri, bacalah “Buku Putih Syiah” (baca bukunya versi PDF di sini).
Ketiga, Syiah gagal dipahami karena ilmu mereka tentang Syiah didapat atau didasarkan pada orang atau buku yang bukan ulama atau rujukan sah (muktabar) Syiah. Oleh karena itu, lagi-lagi, penulis menyarakankan bagi Anda yang ingin tahu Syiah dari ulama atau buku muktabar Syiah, bacalah “Buku Putih Syiah” yang ditulis oleh tokoh Syiah Indonesia berdasarkan pendapat ulama-ulama dan sumber-sumber muktabar Syiah.
Keempat, Syiah gagal dipahami karena ilmunya tentang Syiah berasal atau berdasarkan dari orang atau buku klasik atau kontemporer Syiah yang tak muktabar dan tak mewakili pendapat umum, mainstream dan muktabar Syiah, yang itu bahkan sebagian besar telah diklarifikasi oleh ulama atau ‘pun buku klasik maupun kontemporer yang muktabar dan mewakili pendapat umum, mainstream dan muktabar Syiah.
Dalam kasus ini, yang paling populer, misalnya, soal tuduhan penghinaan atas Sahabat dan Istri Nabi SAW yang (mungkin) ada di buku-buku klasik atau kontemporer Syiah atau disampaikan ulama klasik maupun kontemporer Syiah tetapi sudah difatwakan secara serentak oleh seluruh ulama otoritatif dan muktabar Syiah bahwa Sahabat, Istri Nabi SAW dan segala sesuatu yang dimuliakan oleh umat Islam dari berbagai kalangan (Sunni, dll) wajib juga dihormati oleh Muslim-Syiah di mana ‘pun dan kapan ‘pun. Lihat fatwa tersebut di sini.
Kelima, Syiah gagal dipahami karena niat membaca, mendengar ceramah, berdiskusi dan belajar Syiahnya sudah salah, yakni berdasarkan kebencian. Sehingga kegiatan pembelajarannya atas Syiah sejak awal memang diniatkan untuk mencari-cari kesalahan Syiah untuk kemudian dijadikan dalil menyesatkannya.
Keenam, Syiah gagal dipahami karena penjelasan atau pendapat ulama Syiah muktabar tentang Syiah yang tak sesuai dengan harapan para pembenci Syiah itu disebut sebagai trik taqiyah (menyembunyikan ke-Syiah-annya) semata untuk alasan keamanan mereka. Sehingga semua penjelasan dan pendapat itu ditolaknya karena dinilai trik atau bahkan kebohongan belaka.
Ketujuh, Syiah gagal dipahami karena sejak awal (yakni sejak belum tahu) telah lebh dulu meyakini bahwa Syiah adalah madzhab sesat. Jadi, ia akan menolak penjelasan atau pengetahuan yang tak sesuai denga keyakinannya yang tak berdasar itu.
Kedelapan, Syiah gagal dipahami karena mereka tak memahami Islam dan ilmu Islam secara utuh. Sebab, jelas-jelas, sejarah mencatat Syiah sebagai salah satu madzhab Islam, bahkan yang tertua, yang ajarannya tak menyimpang dari Islam. Adapun perbedaannya dengan Sunni hanya pada masalah cabang-cabang Islam (furu’), sebagaimana perbedaan antara Sunni-Syafi’i dan Sunni-Hambali, misalnya.
Kesembilan, Syiah gagal dipahami karena mereka tak tahu bahwa dalam Syiah ada banyak madzhab kecil yang sebagian menyimpang (misalnya: Syiah Alawy yang mengkultuskan secara berlebihan Sayyidina Ali) yang itu telah disesatkan sejak awal oleh Syiah It’na Asyariyah (Syiah Imamiyah-Ja’fari) yang merupakan Syiah umum yang dianut oleh mayoritas Muslim-Syiah dunia dan seluruh Muslim Syiah di Indonesia.
Mereka tak tahu bahwa Syiah It’na Asyariyah (Syiah Imamiyah-Ja’fari) tak menyimpang, bahkan sangat dekat dengan ajaran Sunni, sehingga oleh Gus Dur sampai-sampai NU disebut sebagai Syiah kultural, karena besarnya sumbangan ajaran Syiah yang diadopsi Sunni-NU. Padahal, di Sunni ‘pun ada madzhab-madzhab kecil, yakni: Syafi’i, Maliki, Hambali, dan Hanafi.
Kesepuluh, Syiah gagal dipahami karena para pembenci syiah suka menggeneralisir. Jadi, ketika mereka melihat tingkah salah seorang Syiah yang dianggapnya melanggar, bukan justru dinilai sebagai kelakuan oknum yang bertentangan dengan ajaran Syiahnya, melainkan dinilai sebagai bukti kesesatan mazhab Syiah. Padahal, hal semacam itu bisa terjadi pada semua penganut madzhab Islam.
Terkait ini, yang paling populer, misalnya, pelanggaran yang dilakukan Presiden Bassar Assad (Presiden Suriah) yang dituding sebagai pengikut Syiah (padahal ia penganut Sunni Alawy), dianggap sebagai pelanggaran Syiah. Padahal, ketika dulu Saddam Hussein sebagai Presiden Irak berlaku kejam, tak pernah hal itu dianggap sebagai kekejaman Sunni yang notabene adalah madzhab Saddam Hussein.
Itulah sepuluh diantara penyebab kegagalan sebagian Muslim memahami Syiah. Semoga tulisan ini bisa mengurai benang kusut kesalahpahaman sebagian Muslim kita terhadap Syiah.

Sumber : “10 Penyebab Kegagalan Memahami Syiah (by Husein Jafar Al-Hadar)” diakses dari http://misykat.net/


Jumat, 22 April 2016

Musuh Kita Hanyalah Syiah “ Berwilayah”

Jika kita menilai mengapa Amerika, Zionis dan Negara-negara Arab seperti Arab Saudi begitu gencar menjatuhkan Syiah khususnya Syiah Iran, itu karena Islam Muhammadi asli termanifestasi dalam Syiah Wilayah Khomeiniyah. Tentunya Negara-negara mayoritas Syiah yang berkiblat kepada Amerika dan Zionis tidak akan pernah diusik dan diganggu seperti Azarbeijan misalnya.
Rahasia ini terungkap ketika terjadi sebuah Rapat khusus yang dilakukan di Ursyalim dekat bukit Muria, mencoba men-Diagnosa kegagalan-kegagalan politik mereka dikancah International oleh Yoshihiro Francis Fukuyama.
Fukuyama adalah ilmuwan politik, ekonom politik, dan penulis Amerika Serikat. Ia juga adalah anggota dewan International Forum for Democratic Studies yang didirikan oleh National Endowment for Democracy dan anggota departemen ilmu politik RAND Corporation.
Dalam rapatnya bersama petinggi-petinggi Amerika dan Zionis ia berkesimpulan, “ Peperangan software yang kita jalankan untuk menguasai perpolitikan dunia pada akhirnya akan dimenangkan oleh orang-orang SYIAH.”
Akhirnya Zionis dan Amerika membuat sebuah Konferensi di Ursyalim yang terkenal dengan Konferensi Ursyalim. Dengan data-data yang Ia punya, Fukuyama mulai memaparkan tema berjudul “ Mengenal dan Mengetahui Esensi Syiah”. Dalam pembukaan rapatnya Fukuyama berkata, “ Syiah adalah sebuah burung yang mana kepakan sayapnya begitu tinggi hingga senjata kita secanggih apapun tidak bisa menggapainya. Burung itu memiliki dua sayap, sayap pertama berwarna Merah dan yang satunya berwarna Hijau.”
Kemudian Ia menjelaskan maksud sayap -sayap tersebut, Adapun Sayap Hijau adalah Mahdawiyah (Mahdisme) dan Harapan bumi ini akan dipenuhi keadilan diakhir zaman. Mahdisme, Law and Justice yang dibawa sayap ini menjadikan orang-orang syiah tidak akan pernah putus-asa dalam bergerak, karena pada akhirnya kemenangan akan jatuh kepada mereka melewati Mahdi yang mereka tunggu.
Mengalahkan mereka tidak lain kita harus mengikis dan memotong keyakinan mereka terhadap Mahdisme dengan kita buat Mahdi tandingan dalam tubuh mereka atau melencengkan keyakinan itu dengan keyakinan tandingan yang seolah itu dikatakan oleh Imam dan ulama mereka.
Sayap kedua yang berwarna merah adalah Kerinduan mereka terhadap kesyahidan, yang mana akar pemikiran ini bersumber dari Karbalaisme dan Huseinisme. Kebangkitan melawan Kedzaliman, Pantang Hina, Hidup mulia atau mati syahid, rela berkorban dan sifat-sifat heroik lainnya.
Huseinisme dan karbalaisme tidak bisa dikalahkan oleh politik, kebudayaan, ekonomi, sosial dan pernak-pernik gemerlap keduniaan. Selama kecintaan kepada Husein ibn Ali as dan kerinduan akan kesyahidan terpatri didalam sanubari mereka, maka selama itu kita akan gagal dan tidak akan pernah berhasil.
Inilah makna “Muhammadiyatul Hudust wa Huseiniyatul Baqa” Islam Muhammadi akan selalu tegak dan abadi ketika Huseinisme selalu diperingati dan hadir ditengah-tengah mereka. Ini ditegaskan oleh perkataan Nabi mereka yang mengatakan “Ana min Husein” yaitu Risalah Muhammadiyah dan pengeksekusinya dari Huseinisme, Karbalaisme dan Mahdisme sebagai keturunan terkahir Husein ibn Ali as.
Terakhir adalah burung ini selain memiliki dua sayap, Ia memiliki jubah atau Dzirah (baju besi) yang melindunginya, mereka sebut dengan Wilayah Faqih. Seseorang yang memimpin dan mengomandoi mereka sebagai perpanjangan tangan Al-Mahdi sang Messiah terakhir kaum Syiah.
Kita sudah coba perang dengan mereka secara terbuka ketika kita menunggangi Irak selama 8 tahun, namun karena Wali faqih, kita terpukul mundur dan tidak bisa menghancurkan revolusi seumur biji jagung tersebut, padahal dari sisi militer, ekonomi dan politik seharusnya bisa dengan mudah dihancurkan. Begitu juga Hizbullah selain memiliki dua sayap itu, mereka tunduk patuh kepada Wali Faqih, penyebab kekalahan-kekalahan kita di negeri kawasan.
Hal pertama yang kita harus lakukan adalah Menggeser dan menjauhkan Mahdisme dari pemikiran generasi mereka. Hal kedua menjauhkan Revolusi Huseinisme dan Karbalaisme dari benak mereka dengan merubah Image dan Pesan Huseini sehingga mereka sedikit demi sedikit hanya mempringati kesyahidannya saja dan melupakan pesan intinya (Menegakan Keadilan dan memerangi segala bentuk Kedzaliman)
Kita buat Image masyarakat benci terhadap Karbala dan Huseinisme dengan memanfaatkan sekelompok fanatis dari mereka lalu kita Ekspos atau kita buat sekelompok yang brutal dan berdarah-darah memukuli kepala mereka, Anak-anak dan Istri-istri mereka dengan benda tajam. Sehingga masyarakat jijik dan menjauh dari pesan asli Huseinisme dan Karbalaisme.
Hal ketiga masalah Wali Faqih, kita buat sekelompok dari kalangan mereka atau kita hasut mereka untuk membenci wali faqih, kita biayai mereka agar jauh dari ketaatan kepada wali faqih.
Masalah ini membutuhkan waktu diskusi yang panjang, karena kita harus menyusup ke Hauzah-hauzah mereka, bertitle Ijtihad atau Marja sehingga ketika diadukan dengan Wali faqih memiliki bobot.
Sistem Hauzah harus digeser sedikit demi sedikit, sehingga mereka kelak hanya fokus kepada ritual-ritual kesyahidan dan kelahiran Imam mereka. Sibukan mereka dengan kajian ilmiah yang berhubungan dengan Perbedaan antara Sunni-syiah, kita tajamkan dimasalah ini, kalau perlu kita buat dari kalangan syiah yang menajamkan perseteruan Sunni-Syiah dengan mencaci-maki dan menghina akidah dan orang-orang yang dikultuskan Ahlu Sunnah.
Untuk masalah agenda 50 tahun ke depan dan 100 tahun kedepan, kita akan atur ulang dengan seksama sehingga tidak terjadi blunder dimasa yang akan datang.

Francis Fukuyama

Selasa, 12 April 2016

SYA'IR LIKHOMSATUN


Katanya pencipta tembang ini adalah salah satu WALI SONGO melalui syi'ir ini terbukti WALI SONGO adalah pencinta ahlulbayt
di ujung syi'ir manusia-manusia suci (Al Musthofa – Al Murtadho- Wabnahuma Hasan-Husein wa Fathimah) disebut.

Doa dan Syiir Untuk Menolak Bala dan Wabah Penyakit
- VIDEO
(Silahkan simak videonya:
Syi'ir dan Doa Untuk Menolak Bala dan Wabah Penyakit, Tembang Jawa
https://www.youtube.com/watch?v=1kR9fxtDPYk)
foto: maafin gwe ilustrasinya cuma hiasan tiada kaitan dengan ritual menolak bala dan wabah penyakit

Tembang ini pernah demikian populer saat saya masih kecil dahulu, konon katanya pencipta tembang ini adalah salah satu Wali songo. Nadanya yang syahdu dan penuh nasehat terasa nyaman dan menimbulkan kesan yang mendalam. Selain itu masih menurut kakek saya dan juga orang-orang tua disekitar tempat saya tinggal tembang ini juga bisa menolak bala dan menyembuhkan wabah penyakit yang datang.
Jika ada diantara anda yang lahir antara tahun 1950 - 1970 pasti tidak asing dengan tembang yang satu ini khususnya di pulau jawa karena biasanya dibuat syair atau pujian sebelum sholat dimasjid atau di surau (mushola).
Dan konon tembang ini diwajibkan oleh sesepuh dan pimpinan Universitas Darul Ulum Jombang untuk terus dilestarikan di lingkungan Darul Ulum.
Syairnya adalah sebagai berikut :
Likhomsatun uthfi biha Kharral wabaa il khatimah Al Musthafa wal Murtdha Wabnahuma wa Fathimah 2x
Kulo gadah aji aji limo
Kanggo mbukak lawange suwargo
Kanggo nyirepi geni neroko
Lan nyengkalani siksane Alloh. 2x
Aji aji limo wujud manungso
Linuwih ilmu sumber tulodo
tindak lakune adoh saking olo
Manah niate tansah waskito. 2x
Kanjeng Muhammad Rosulillah
Sayyidatun nisak siti Fathimah
Sayyidina Ali karromallohu wajhah
Putro kekalih Hasan lan Husain. 2x
Poro malaikat podo sholawat
Bumi lan langit sedoyo khidmat
Jiwo limo kinasih Alloh
Jiwo limo satruning doso. 2x
Sinten kemawon kang nyolawati
Kanjeng Nabi tansah nyafa’ati
Marang liyane yen nrisnani
Gusti Alloh bakal ngridhani. 2x
Mboten bakal ketrimo sholate
Yen mboten maos sholawate
Imam syafi’i ngendika ake
Niki bukti agunge drajate. 2x
Nadyan ibadah sak umur-umur
Amal ibadah ra keno diukur
Marang limone yen ora akur
Neroko panggone bakale njegur. 2x
Arti bahasa indonesianya kurang lebih demikian:
”Lii khomsatun utfi bihaa harrol wabaa-i haatimah, al-Musthofa wal murtadho wabna huma wa Fathimah”
Pusaka lima berwujud manusia,
Puncaknya ilmu (dan) sumber teladan,
tingkah dan perilakunya jauh dari kesalahan,
Hati dan akalnya selalu lurus(dalam kebenaran). 2x
Nabi Muhammad Rasulillah
Sayyidatunnisak Siti Fathimah
Sayyidina Ali karramallahu wajhah
Dan kedua putranya Hasan dan Husain 2x
Para malaikat Semua Bershalawat
Bumi dan langit semua Berkhidmat
Jiwa lima kekasih Allah
Jiwa lima tidak pernah melakukan dosa (bermaksiat). 2x
Siapa saja yang suka bershalawat,
Baginda Nabi saw akan memberikan safa’atnya
Untuk siapa saja yang mencintai mereka
Allah akan selalu meridhainya. 2x
Tidak akan diterima sholatnya
Jika tidak membaca sholawat (kepada Nabi Muhammad dan keluarganya)
Imam syafi’i pernah mengingatkan (tentang keutamaan Ahlul Bayt)
Ini adalah bukti keagungan derajatnya (di sisi Allah swt). 2x
Meski ibadah selama hidupnya
Amal ibadah sebanyak-banyaknya.
(Tapi) jika kepada kelima (manusia suci) itu (memusuhi) dan tidak mengikutinya
Nerakalah tempat akan dimasukinya 2x.


Jumat, 18 Maret 2016

MEWASPADAI GENERASI “IBNU MULJAM”

Sebuah Perenungan & Pencerahan
Untuk Aku & Dirimu

Ali bin ABi Thalib gugur sebagai syahid pada waktu subuh, tanggal 7 Ramadhan akibat tebasan pedang salah seorang anggota sekte Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam Al Murodi. Uniknya sang pembunuh ini melakukan aksinya sambil berkata, “Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.”

Tidak berhenti sampai di situ, saat melakukan aksi bejadnya ini Ibnu Muljam juga tidak berhenti mulutnya mengulang-ulang ayat 207 surat Al Baqarah yang artinya, “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” Tatkala khalifah Ali bin ABi Thalib akhirnya gugur, Ibnu Muljampun akhirnya dieksekusi mati dengan cara di qishas.

Proses qishasnya pun bisa membuat kita tercengang. Karena saat tubuhnya telah diikat untuk di penggal kepalanya, ia masih sempat berpesan kepada Algojo yang mendapat tugas melakukan eksekusi, “Jangan penggal kepalaku sekaligus. Tapi, potonglah anggota tubuhku, sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Allah.”

Demikianlah keyakinan Ibnu Muljam yang berpendapat bahwa membunuh Ali bin Abi Thalib, yang nota bene salah satu sahabat yang dijamin masuk surga, menantu (suami Sayyidah Fathimah) dan saudara sepupu Rasulullah dan ayah dari Hasan dan Husein, dua pemimpin pemuda ahli surga. Aksi yang dilakukan oleh Ibnu Muljam ini adalah realitas pahit yang kita lihat pada kehidupan ummat Islam sekarang. Dimana diantara para pemuda kita terdapat kelompok yang giat melakukan provokasi, untuk membunuh kaum muslimin yang tidak berdosa. Hanya beda firqoh.

Kelompok ini menggunakan intimidasi dan aksi kekerasan sebagai strategi perjuangan mereka. Merekalah yang disinyalir Nabi dalam sabdanya “Akan ada para lelaki yang membaca Al Qur’an tanpa melampaui tulang selangka mereka. Mereka telah keluar dari agama laksana keluarnya anak panah dari busur.”

Kebodohan mengakibatkan mereka merasa berjuang membela kepentingan agama Islam padahal hakikatnya mereka sedang memerangi Islam dan kaum muslimin. Ibnu Muljam sejatinya adalah figur lelaki yang tidak buta sama sekali terhadap ilmu agama. Di jidatnya terlihat dengan nyata jejak sujud. Ia juga hapal Al Qur’an dan sekaligus sebagai guru yang berusaha mendorong orang lain untuk menghafalkannya.

Umar bin Khatthab pernah menugaskannya ke Mesir demi mengabulkan permohonan Amr bin Ash yang memohon kepada beliau untuk mengirim ke Mesir figur yang hafal Al Qur’an untuk mengajarkannya kepada penduduk Mesir.

Tatkala ‘Amr bin ‘Ash meminta, “Wahai Amirul mukminin, kirimkanlah kepadaku lelaki yang hafal Al Qur’an untuk mengajari penduduk Mesir“ Umar menjawab, “Saya mengirimkan untukmu seorang lelaki bernama Abdurrahman bin Muljam, salah seorang ahli Al Qur’an yang aku prioritaskan untukmu dari pada untuk diriku sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Al Qur’an kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia…!.”

Meskipun Ibnu Muljam hafal Al Qur’an, bertaqwa dan rajin beribadah namun semua itu tidak bermanfaat baginya. Ia mati dalam kondisi su’ul khatimah, tidak membawa iman dan Islam akibat kedangkalan ilmu agama yang dimilikinya dan berafiliasi dengan sekte Khawarij, yang telah meracuni para pemuda muslim sehingga melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam. Namun justru mengklaim semua itu dalam rangka membela ajaran Allah dan Rasulullah.

Bercermin dari figur Ibnu Muljam tentu kita tidak perlu merasa aneh jika sekarang muncul kelompok-kelompok ekstrim yang mudah memvonis kafir terhadap sesama muslim yang berbeda pandangan, melakukan tindakan yang sama persis yang dilakukan oleh Ibnu Muljam. Mereka mengklaim berjuang menegakkan agama Allah namun faktanya justru menebar ketakutan kepada ummat Islam.

Oleh karena itu, menjadi tugas bersama para ulama dan umaro’ untuk membentengi kaum muslimin di Indonesia dari ide-ide keagamaan yang destruktif yang dikembangkan oleh generasi pewaris Abdurrahman bin Muljam dan untuk berusaha keras menghalangi siapapun yang ingin menjadikan Indonesia sebagai ladang subur bagi tumbuhnya kelompok-kelompok neo khawarij yang militan namun miskin referensi.

sumber :
http://pcnukendal.id/2016/04/15/mewaspadai-generasi-ibnu-muljam/

Hadis Nabi Ini Kalau Bukan Untuk Salafi, Lalu Untuk Siapa...???
==============================================
.
Ada hadis Nabi SAW yang jelas-jelas merujuk kepada kelompok yang sekarang ini membajak nama Salaf, dengan sebutan Salafi mengikuti aqidah Tauhid ala Muhamad Ibn Abdul Wahab An-Najed, yang meyakini Allah Ta’ala memiliki dua tangan.
.
Hadis nabi SAW jika bukan untuk kelompok Salafi lalu untuk siapalagi? Silahkan dicermati baik-baik.
.
Lalu Rasulullah Saww bersabda:”Akan datang suatu kaum kelak seperti dia, baik perkataannya, tapi buruk kelakuannya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk. Mereka mengajak kepada Kitabullah, tetapi mereka sendiri tidak mengambil darinya sedikitpun. Mereka membaca Al Quran, tetapi tidak melebihi kerongkongannya . Kalian akan mendapatkan bacaan Al-Qur’an mereka lebih baik dari kalian dan shalat dan puasa mereka lebih baik dari kalian. Mereka akan melesat meninggalkan Islan sebagaimana anak panah melesat dari busurnya. Mereka mencukur kepala serta mencukur kumisnya, pakaian mereka hanya sebatas setengah betis mereka.“
.
Coba difikirkan, golongan mana yang paling tepat sesuai dengan deskripsi hadis diatas selain “Salafi”...?
.
Hadis diatas jelas-jelas merujuk ke Salafi Wahabi, saya akan paparkan dua hal esensi dari Hadis ini yang amat cocok dengan Salafi.
.
Dari segi kelakuan:
.
Hadis ini mengatakan bahwa kelompok tersebut, mereka mengajak kepada kitabullah, bacaannya baik dan shalatnya luar biasa.
.
Nah bukankah hal tersebut sudah kebiasaan orang yang mengaku Salafi? Mereka sering baca Quran mengajak kembali ke Kitabullah dan shalatnya bagus. Akan tetapi? Mereka begitu dungu dan berteman dengan kafir.
.
Dari segi penampilan:
.
Hadis itu mengatakan bahwa mereka mencukur rambut dan kumis, dan pakaiannya sebatas betis.
.
Kelompok mana yang sering cukur rambutnya, cukur kumis dan pakaiannya sebatas betis (alias cingkrang), kalau bukan salafi wahabi?
.
Jadi saudara-saudara ku yang kini tengah giat ikuti pelatihan-pelatihan (Dauroh) kalian sebenarnya sedang mengikuti ajaran yang Rasulullah mengecamnya.... Miiiikiiir ...Wahabi oh Salafi Palsu.



Keagungan Imam Ali salamullahu alaihi

Keputusan Komisi Hukum PBB 2002 untuk Imam Ali as
Oleh: Hasan bin Farhan Al Maliki

Sebelum satu dekade silam, Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) mengumumkan, dan dengan bangga, bahwa Komisi Hak Asasi Manusia di New York mengeluarkan keputusan historisnya pada tahun 2002 yang menyatakan, “Khalifah kaum Muslimin Ali bin Abi Thalib adalah penguasa paling adil sepanjang sejarah manusia.” Keputusan itu didasarkan pada dokumen setebal 160 halaman.
Bertahun-tahun kemudian, Komisi Hukum PBB merilis pesan Ali bin Abi Thalib kepada wakilnya di Mesir, Gubernur Malik Al-Asytar, “Wahai Malik, sesungguhnya manusia itu ada dua tipe: Jika dia bukan saudaramu seagama, dia saudaramu dalam kemanusiaan.” Setelah melewati berbagai diskusi dan kajian, akhirnya pesan itu masuk nominasi untuk dijadikan salah satu sumber hukum dunia. Puncaknya pemungutan suara memutuskan pesan itu sebagai salah dasar hukum positif.
Dan tidak lama kemudian, saya mendengar seorang profesor yang menceritakan tentang perjalanannya ke Cina dipandu seorang aktivis yang memiliki lembaga sosial. Saat profesor itu berjalan di jalan raya, sang pemandu menunjukkan padanya sebuah bangunan tingkat tinggi yang di sisinya tertulis ungkapan berbahasa Cina. Kalimat ini, kata sang pemandu, menjadi slogan hidup masyarakat. Dan katanya, pernyataan ini berasal dari pria Arab. Sang profesor pun kemudian mencatatnya.
Lalu saya bertanya pada sang profesor: “Apa bunyi ungkapan itu dan siapa pria yang mengatakannya?”
Dia pun menjawab bahwa sumber ungkapan itu adalah pria yang Anda sebut dengan nama Ali bin Abi Thalib dimana dia pernah berkata, “Seandainya kemiskinan berwujud manusia, maka aku akan membunuhnya.”

Jika kita memeriksa koleksi perpustakan kongres AS di Washington dan membaca buku berjudul Lost History: The Enduring Legacy of Muslim Scientists karya penulis kontemporer Amerika, Michael Hamilton Morgan, maka kita akan menemukan kekagumannya yang luar biasa terhadap kebijaksanaan seorang penguasa bernama Ali bin Abi Thalib. Hal itu tercermin ketika Morgan menjelaskan surat-surat Ali pada gubernur-gubernurnya, di antaranya surat panjang dia kepada Malik Al Asytar di Mesir. Surat-surat itu menekankan pada mereka untuk memperlakukan warganya yang non-Muslim dengan semangat keadilan dan kesetaraan dalam hak dan kewajiban.
Penulis asing ini memandang dengan refleksi yang jujur tentang prilaku terpuji khalifah yang dibingkai dengan keutamaan-keutamaan akhlak itu. Menurutnya, prilaku mulia itu meletakkan Ali dalam sejarah kemanusiaan dari pintu yang lebih luas.
Demikian juga jika kita dalami pembahasan ini, kita akan dapatkan Imam Ali sebagai simbol kepribadian sekaligus pendekatan ilmiah yang diajarkan di kebanyakan negara-negara di dunia.
Namun, ketika kita meminta mahasiswa di negara-negara Islam manapun untuk menengok kembali pada periode kekhalifahan dan bertanya tentang sosok Ali, maka jawabannya tidak lebih dari apa yang diajarkan dalam buku-buku sejarah yang ada. Yaitu bahwa Ali adalah anak paman Nabi, menantu Nabi, khalifah keempat, sahabat yang termasuk dalam 10 yang dijamin masuk surga, prajurit pemberani di medan tempur, dan hanya sampai di situ?!
Maka, apakah tidak layak sosok Ali yang ada sekitar 110 ayat Al Qur’an terkait dengannya, menambah halaman-halaman buku sejarah Islam untuk memperkenalkan sosok ini kepada anak-anak kita?! Tentang kemanusiaan sosok ini, tentang kontribusinya yang kaya, tentang pembelaan dan kesyahidannya untuk menegakkan kalimat ‘tiada Tuhan selain Allah’, dan suatu hakikat Islam manusiawi?! Tidakkah mereka layak mendapat pelajaran dan hikmah dari sosok ini yang dapat membantu mereka dalam membangun dasar yang benar sebagai representasi kebenaran nyata ajaran Allah Swt?!
Sayangnya, Ali bin Abi Thalib yang sengaja dilaknat selama lebih dari 60 tahun di mimbar-mimbar kaum Muslim di awal periode Islam itu dan sengaja disembunyikan cahayanya yang menerangi berbagai sistem yang buruk oleh para penguasa lalim saat itu masih terus terasa hingga kini.
Akhirnya, pertanyaan saya pada semua pihak yang berkepentingan, siapa yang bertanggung jawab atas penyembunyian sosok Muslim yang berharga ini dari lembaran-lembaran sejarah Islam?!


Senin, 14 Desember 2015

Politisasi Haji Arab Saudi

Setelah melalui upaya negosiasi berbulan-bulan, akhirnya Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Iran, Ali Jannati, mengumumkan bahwa tahun ini rakyat Iran tidak dapat mengikuti ibadah haji. Jannati menyatakan bahwa keputusan ini diambil karena pemerintah Arab Saudi tidak mau memberikan jaminan keamanan kepada jamaah haji Iran dan mempersulit pengurusan visa haji. Sementara itu, dari Qom, Grand Ayatullah Makarim Shirazi mendukung keputusan pemerintah Iran dan mengecam keras pemerintah Saudi yang telah ‘memperlakukan Haramain sebagai properti pribadi’. Shirazi juga memberikan informasi tambahan bahwa akhir-akhir ini Imam Jumat di Saudi melakukan propaganda anti-Syiah secara masif, sehingga jamaah haji Iran menghadapi bahaya besar, yaitu serangan dari kaum muda Saudi takfiri.
Sebaliknya, Arab Saudi dan Liga Arab memberikan pernyataan-pernyataan yang menyudutkan Iran, menyebut negeri Persia itu telah ‘mempolitisasi haji untuk menarget Saudi’. Menlu Arab Saudi menyatakan bahwa alasan utama macetnya negosiasi adalah karena Iran meminta diberi kebebasan untuk melakukan demonstrasi, sebuah tradisi yang dilakukan oleh jamaah Iran setiap musim haji.
Di balik perang pernyataan dari kedua pihak tersebut, muncul pertanyaan, siapakah yang sebenarnya mempolitisasi haji? Bila kita sedikit menggunakan perspektif realis yang umum dipakai dalam menganalis Hubungan Internasional, hitung-hitungan untung rugi material dan kepentingan nasional penting dicermati. Bila disebut Arab Saudi ‘rugi’ karena kehilangan jamaah haji dari Iran, agaknya kurang tepat karena jumlahnya hanya sekitar 64.000 orang, yang dapat digantikan oleh jamaah haji dari negara-negara lain yang over kuota. Sebaliknya, kepentingan politik Arab Saudi justru diuntungkan dengan tidak hadirnya jamaah haji Iran. Sebagaimana diketahui, sejak 1981 atas perintah Ayatullah Khomeini, jamaah Iran biasa mengadakan orasi publik di padang Arafah, menyerukan persatuan Islam, serta mengecam Barat dan Israel yang selama ini mengobarkan perang di negeri-negeri Muslim.
Demonstrasi damai yang digelar Iran itu memang sangat ‘mengganggu’ rezim Bani Saud. Bukan rahasia lagi bahwa Arab adalah sekutu dekat Barat dan Israel. Meskipun secara resmi Israel dan Arab Saudi tidak memiliki hubungan diplomatik, namun kerjasama di antara keduanya tidak bisa ditutupi. Di antaranya, Arab Saudi membiayai operasi-operasi intelijen Israel melawan Iran, Arab Saudi menyewa perusahaan keamanan Zionis, G4S untuk mengamankan haji, dan sebaliknya, Israel membantu Arab Saudi untuk menginvasi Yaman. Pada pada tahun 1987, tentara Saudi memblokade para demonstran Iran serta menembaki mereka, 400 lebih tewas dan ribuan lainnya terluka. Iran merespon aksi brutal Saudi dengan memboikot ritual haji (tidak mengirimkan jamaah haji) mulai 1988-1990.
Selain itu, seiring dengan propaganda masif Arab Saudi dan sekutunya, tidak hadirnya jamaah haji Iran telah dimanfaatkan untuk semakin mengucilkan Iran di Dunia Islam (dan menjadi justifkasi bagi kelompok anti-Syiah yang selama ini direpotkan oleh argumen ‘Syiah adalah bagian dari Islam, buktinya mereka hadir dalam ritual haji dan umrah’). Sebaliknya, berbagai sisi, Iran adalah pihak yang paling dirugikan dalam kasus ini. Jadi, aneh bila dikatakan bahwa Iran-lah yang mempolitisasi haji.
Menurut kantor berita IRNA, upaya Saudi dalam menghalangi kedatangan jamaah haji Iran terlihat sejak negosiasi pertama antara Tehran and Riyadh. Negosiasi semula direncanakan bulan Januari, namun ditunda-tunda oleh pihak Saudi hingga akhir April. Dalam negosiasi itu, Saudi menolak permohonan visa dari Iran serta menolak masuknya maskapai Iran Airlines ke Saudi (artinya jamaah haji Iran harus menggunakan maskapai lain). Iran sudah menawarkan agar dibagi 2: 50% jamaah diangkut dengan Iran Airlines, 50% lagi dengan maskapai milik Saudi, namun tetap ditolak. Pertemuan kedua juga tertunda 45 hari dari yang dijanjikan dan Saudi tidak melakukan langkah apapun terkait visa (seharusnya, sesuai janji, Saudi menandatangani perjanjian dengan Swiss, sehingga visa jamaah haji Iran bisa dikeluarkan oleh Kedutaan Swiss di Tehran).
Menurut Saeed Ohadi, Kepala Organisasi Haji dan Ziarah Iran, dalam pertemuan terakhir, Menteri Haji Saudi bahkan tidak hadir dan lewat telepon meminta Iran agar menandatangani MoU (perjanjian) yang mereka sodorkan, serta hanya menjanjikan ‘akan meninjau tuntutan Iran’. Pihak Iran menolak janji yang meragukan ini, sehingga tidak mau menandatangani. Tanggal 29 Mei adalah batas waktu yang diberikan Iran kepada Saudi untuk memberikan persetujuannya atas permintaan Iran, dan ternyata pihak Saudi sama sekali tidak memenuhinya.
Masalah terpenting yang dituntut Iran adalah jaminan keamanan dari pihak Saudi, mengingat Iran telah menjadi korban dari kelalaian sekuriti Saudi. Pertama, kasus pelecehan seksual (perkosaan) yang dilakukan oleh sekuriti Saudi terhadap dua remaja laki-laki Iran saat menunaikan umrah tahun 2015. Iran telah menuntut Saudi mengadili pelaku perkosaan itu dan tidak akan mengirim jamaah umrah hingga kasus ini tuntas. Kedua, tragedi Mina yang menewaskan 2.411 jamaah haji dari berbagai negara (Iran memperkirakan jumlah korban tewas sebeanrnya di atas 4000), dan Iran adalah salah satu negara dengan korban terbanyak (464). Pemerintah Iran pun mengaku dipersulit oleh rezim Saudi saat mengevakuasi jenazah warga negaranya. Arab Saudi hingga kini tidak mau minta maaf, tidak mengaku bersalah, dan bahkan beberapa warga Iran masih hilang dan tidak ada upaya rezim Saud membantu Iran menemukan warganya. Kedua kasus ini kemudian disusul oleh pemenggalan ulama Syiah terkemuka di Saudi, Sheikh Nimr al-Nimr. Iran mengecam keras pemenggalan ini dan ditanggapi reaktif oleh Saudi dengan cara memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran.
Rekam jejak Saudi yang berkali-kali gagal melindungi keamanan jamaah haji dan menggunakan kekuasaannya atas Haramain untuk kepentingan politik (korban selain Iran adalah Yaman dan Nigeria), membuat usulan Iran selama ini agar pengelolaan haji diserahkan kepada OKI menjadi sangat masuk akal.[DS]


Minggu, 02 Agustus 2015

Bocoran Jawaban Siapa Imammu dalam Kubur


Berikut Adalah Soal Pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir Kepada Mayat/Mayit di Alam Kubur (Alam Barzah):

1. Siapa Tuhanmu?
2. Siapa Nabimu?
3. Apa Agamamu?
4. Siapa Imammu?
5. Dimana Kiblatmu?
6. Siapa Saudaramu?

Berikut Ini Adalah Jawaban Atas Pertanyaan Malaikat Mungkar dan Nakir :
1. Siapa Tuhanmu? Allah SWT
2. Siapa Nabimu? Muhammad SAW
3. Apa Agamamu? Islam
4. Siapa Imammu? Al-Quran
5. Dimana Kiblatmu? Ka'bah
6. Siapa Saudaramu? Muslimin dan Muslimat

Sinar Agama
(1). Sengaja tidak sebut pertanyaan: Apa kitabmu? Karena akan sama dengan jawaban "Siapa imammu?". Padahal kan tidak mungkin malaikatnya lupa.

(2). Kalaulah kamu sudah berimam pada Qur an, apakah kamu sudah membuat negara yang berhukum Qur an? Karena imam kan menjadikannya pemimpin dalam semua hal terutama kenegaraan.

(3). Qur an sendiri mengatakan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
(QS: 4: 59)

"Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, dan taatlah kalian kepada Rasul dan Pemimpin/imam diantara kalian!"

Kalau kamu mau ikut Qur an, maka Qur an sendiri meewajibkanmu mengikuti PEMIMPIN DIANTARA KITA MANUSIA. Jadi, imam dan pemimpn itu adalah MANUSIA, bukan kitab.

(4). Syarat imam harus maksum as, QS: 76: 24:
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا

"Sabarlah dengan hukum Tuhanmu dan jangan ikuti orang-orang yang memiliki dosa (berdosa) dan orang-orang yang kafir!!!"

Jadi, imam itu disamping manusia, ia juga harus/wajib maksum alias tidak punya dosa. Karena itu, karena yang tahu kemaksuman ini hanya Allah dan NabiNya saww (setelah diberitahu Allah), maka Pemimpin atau Imam ini tidak bisa dipemilukan, akan tetapi harus ditentukan dan ditunjuk Allah.

(5). Imam Maksum inilah yang akan membawa shiratu al-mustaqim, jalan lurus yang Qur an sendiri mengatakan SAMA SEKALI TIDAK MEMILIKI KESALAHAN, yang diungkap dengan WA LAA AL-DHAALLIIN (tidak salah sama sekali). Nah, kalau ilmu Islam dan amal2 Islamnya tidak salah sama sekali, berarti ilmu dan amalnya mesti sama seperti Nabi saww, artinya jalan ini mesti berupa jalannya orang maksum. Karena itu, kalau maksum ini tidak ada setelah Nabi saww, berarti Tuhan berdusta kepada kita dan menipu kita manakala mewajibkan kita meminta kepadaNya dalam setiap shalat untuk ditunjuki kepada jalan lurus itu, karena jalan lurus tersebut tidak ada karena ketidak adaan orang maksum ini. Padalah kan Tuhan tidak mungkin menipu kita dan membohongi kita?

Dengan demikian, maka ketika Tuhan mewajibkan di setiap shalat membaca alfatihah, dimana ada permintaan jalan lurus, dimana jalan lurus ini adalah jalan maksum, maka sudah jelas bahwa jalan lurus itu ada, yakni jalan maksum ini ada. Itulah imam yang wajib ditaati yang tidak boleh memiliki dosa itu.

(6). Karena maksum ini tidak bisa diketahui kecuali oleh Allah secara langsung dan oleh Nabi saww secara tidak langsung (karna diberi tahu Allah), maka Tuhan sengaja di dalam Qur an memngumumakaan akan adanya orang-orang maksum yang disebut Ahlulbait as ini.
Perhatikan QS: 33: 33:
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا


"Sesungguhnya Allah hanya ingin menghilangkan segala kekotoran (dosa) dari kalian wahai Ahlulbait, dan membersihkan kalian sebersih bersihnya."

Dan sesuai dengan kesaksian puluhan atau ratusan hadits sunni, Ahlulbait as itu adalah siti Faathimah as, imam Ali as, imam Hasan as, dan imam Husain as. Tentu saja karena hanya meraka yang lahir pad awaktu itu. Kalau tidak maka 9 imam-imam lainnya adalah Ahlulbait dan maksum as. Sampai2 hal tsb disaksikan oleh setidaknya dua Istri Nabi saww bahwa maksud Ahlulbait as adalah meraka2 yang disebuntukan itu.

- Untuk kesaksian 'Aisyah bisa dilihat di: Shahih Muslim, jld. 2, hal. 368; Syawaahidu al-Tanziil, jld. 2, hal. 33 dimana disini ada 9 hadits; Mustadrak Hakim, jld. 3, hal. 147; .....dllnya yang banyak sekali.

- Untuk kesaksian Ummu Salamah ra, bisa dilihat di: Shahih Turmudzi, jld. 5, hal. 31 dan hal. 328 dan 361; Syawaahidu al-Tanziil, jld. 2, hal. 24, disini ada 32 hadits; Tafsir Ibnu Katsiir, jld. 3, hal. 484 dan 485; Tafsir Thabari, jld. 22, hal. 7 dan 8; ...dll yang banyak sekali.

(7). Dan karena di atas sudah dikatakan bahwa imam itu WAJIB MANUSIA (bukan kitab Qur an) dan WAJIB MAKSUM, maka 12 imam yang disebut Nabi saww di shahih Bukhari dan Muslim itu, sudah mesti orang-orang maksum. Nabi saww bersabda:

"Setelah aku ada 12 imam, semuanya dari Qurasy"

(Shahih Bukhari, hadits ke: 7222 dn a7223; Shahih Muslim hadits ke: 3393, 3394, 3398; ....dll-nya di kitab2 yang banyak sekali).

Karena itu pulalah maka Nabi saww mengatakn bahwa imam ke 12 itu adalah Ahlulbait as:

Abu Hurairah berkata, bahwa Nabi saww bersabda:

"Kalaulau umur dunia ini tidak tersisa kecuali sehari, maka Allah akan memanjangkan -umurnya- sehingga dikuasai oleh seorang lelaki dari Ahlulabaitku dimana akan mengusai gunung Dailam dan al-Qisthanthaniyyah."

Lihat hadits-hadits seperti ini dan yang senada di: Shahih Ibnu Maajah bab al-Jihad dan bab al-Fitan, jld. 3, hal. 177; Musnad Ahmad bin Hanbal, jld. 1, hal. 84; Shahih Abu Daud, jld. 27, kitab: al-Mahdi; Mustadrak Hakim, jld. 4, hal. 557; Usdu al-Ghaabah, jld. 1, hal. 259; .... dll yang banyak sekali.

wassalam.