Minggu, 05 Juli 2015

Mengapa Kirim Fatihah Dengan kalimat “Ila Ruhi…”?

Oleh: Ustadz Ma’ruf Khozin


Sudah sering kali ketika tradisi yang sudah menjalar di masyarakat dan itu warisan para ulama yang berdasarkan ijtihad mereka dengan tetap berpegang pada sumber hukum Islam masih ada golongan yang senang sekali mengkritisi dan menganggap sebagai ajaran yang menyimpang atau bid’ah. Salah satunya tradisi mengirim hadiah fatihah kepada mayit dan penggunaan lafal “ila ruhi….”.
Al-‘Allamah Sayyid ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Umar Ba ‘Alawi al-Hadhrami (1250- 1320) seorang ulama Hadhramaut Yaman mengungkapkan tentang keutamaan hal itu dalam kitabnya:
(مَسْأَلَةُ ب) اْلأَوْلَى بِمَنْ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ لِشَخْصٍ أَنْ يَقُوْلَ إِلَى رُوْحِ فُلاَنِ بْنِ فُلاَنٍ كَمَا عَلَيْهِ الْعَمَلُ وَلَعَلَّ اخْتِيَارَهُمْ ذَلِكَ لِمَا أَنَّ فِي ذِكْرِ الْعَلَمِ مِنَ اْلاِشْتِرَاكِ بَيْنَ اْلاِسْمِ وَالْمُسَمَّى وَالْمَقْصُوْدُ هُنَا الْمُسَمَّى فَقَطْ لِبَقَاءِ اْلأَرْوَاحِ وَفَنَاءِ اْلأَجْسَامِ (بغية المسترشدين لعبد الرحمن باعلوي الحضرمي 1 / 201)
(Fatwa Syaikh Bafaqih) “Yang paling utama bagi seseorang yang membaca al-Fatihah untuk orang lain adalah mengucapkan: Untuk Ruh Fulan bin Fulan, sebagaimana yang telah diamalkan. Para ulama menggunakan hal tersebut karena dalam menyebutkan nama akan ada kesamaan antara nama dan orangnya, dan yang dimaksud disini adalah orangnya, sebab yang kekal adalah arwahnya, sementara jasadnya akan hancur” (Bughyat al-Mustarsyidin I/201)
Hal ini menunjukkan bahwa kirim pahala Fatihah juga sudah diamalkan oleh para ulama Aswaja di Negeri Yaman.
Hadis membaca surat Al Fatihah untuk yang meninggal dunia
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَةِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِي قَبْرِهِ (رواه الطبراني في الكبير رقم 13613 والبيهقي في الشعب رقم 9294 وتاريخ يحي بن معين 4 / 449)
“Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda: Jika diantara kalian ada yang meninggal, maka janganlah diakhirkan, segeralah dimakamkan. Dan hendaklah di dekat kepalanya dibacakan pembukaan al-Quran (Surat al-Fatihah) dan dekat kakinya dengan penutup surat al-Baqarah di kuburnya” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 13613, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 9294, dan Tarikh Yahya bin Main 4/449)[2]
Al-Hafidz Ibnu Hajar memberi penilaian pada hadis tersebut:
فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ أَخْرَجَهُ الطَّبْرَانِي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ (فتح الباري لابن حجر 3 / 184)
“HR al-Thabrani dengan sanad yang hasan” (Fath al-Bari III/184)
Surat Fatihah Adalah Doa
Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa beberapa sahabat Nabi pernah singgah di sebuah kabilah, yang kepala sukunya terkena gigitan hewan berbisa. Lalu sahabat melakukan doa ruqyah dengan bacaan Fatihah (tanpa ada contoh dan perintah dari Nabi). Kepala suku pun mendapat kesembuhan dan sahabat mendapat upah kambing. Ketika disampaikan kepada Nabi, beliau tersenyum dan berkata:
وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ أَصَبْتُمُ اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِى مَعَكُمْ بِسَهْمٍ
“Dari mana kalian tahu bahwa surat Fatihah adalah doa? Kalian benar. Bagikan dan beri saya bagian dari kambing itu” (HR al-Bukhari dan Muslim, redaksi diatas adalah hadis al-Bukhari)
Di hadis ini sahabat membaca al-Fatihah untuk doa ruqyah adalah dengan ijtihad, bukan dari perintah Nabi. Mengapa para sahabat melakukannya, sebab hal ini tidak dilarang oleh Rasulullah. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam al-Hasyr: 7
“… Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…”
Yang harus ditinggalkan adalah sesuatu yang dilarang oleh Rasulullah, bukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah! Dalam masalah al-Fatihah ini tidak ada satupun hadis yang melarang membaca al-Fatihah dihadiahkan untuk mayit!
Bahkan membaca al-Fatihah untuk orang yang telah wafat juga telah diamalkan oleh para ulama, diantara ulama ahli Tafsir berikut:
وَأَنَا أُوْصِي مَنْ طَالَعَ كِتَابِي وَاسْتَفَادَ مَا فِيْهِ مِنَ الْفَوَائِدِ النَّفِيْسَةِ الْعَالِيَةِ أَنْ يَخُصَّ وَلَدِي وَيَخُصَّنِي بِقِرَاءَةِ اْلفَاتِحَةِ وَيَدْعُوَ لِمَنْ قَدْ مَاتَ فِي غُرْبَةٍ بَعِيْداً عَنِ اْلإِخْوَانِ وَاْلأَبِ وَاْلأُمِّ بِالرَّحْمَةِ وَالْمَغْفِرَةِ فَإِنِّي كُنْتُ أَيْضاً كَثِيْرَ الدُّعَاءِ لِمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فِي حَقِّي وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً آمِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (تفسير الرازي : مفاتيح الغيب 18 / 183)
“(al-Razi berkata) Saya berwasiat kepada pembaca kitab saya dan yang mempelajarinya agar secara khusus membacakan al-Fatihah untuk anak saya dan diri saya, serta mendoakan orang-orang yang meninggal nan jauh dari teman dan keluarga dengan doa rahmat dan ampunan. Dan saya sendiri melakukan hal tersebut” (Tafsir al-Razi 18/233-234)
Bahkan ulama Salafi yang bernama Syaikh Abdullah al-Faqih berfatwa berpendapat bahwa al-Fatihah bisa sampai kepada orang yang telah wafat,:
قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ، سَوَاءٌ الْفَاتِحَةُ أَوْ غَيْرُهَا وَإِهْدَاءُ ثَوَابِ قِرَاءَتِهَا إِلَى الْمَيِّتِ جَائِزٌ وَثَوَابُهَا يَصِلُ إِلَى الْمَيِّتِ –إِنْ شَاءَ اللهُ- مَا لَمْ يَقُمْ بِالْمَيِّتِ مَانِعٌ مِنَ اْلاِنْتِفَاعِ بِالثَّوَابِ وَلاَ يَمْنَعُ مِنْهُ إِلاَّ الْكُفْرُ (فتاوى الشبكة الإسلامية معدلة رقم الفتوى 18949 حكم قراءة الفاتحة بعد صلاة الجنازة 3 / 5370)
“…. Membaca al-Quran baik al-Fatihah atau lainnya, dan menghadiahkan bacaannya kepada mayit, maka akan sampai kepadanya –Insya Allah- selama tidak ada yang menghalanginya, yaitu kekufuran (beda agama).” (Fatawa al-Islamiyah 3/5370)

Minggu, 10 Mei 2015

Sedikit Mengenai Sesat & Kafir

Sebuah Perspektif Muhsin Labib.

Sangka baik memperbaiki diri. Sangka buruk memperburuk diri.
Berikhtiar adalah salah satu bukti sangka baik kepada manusia. Berdoa adalah salah satu bukti sangka baik kepada Tuhan.
Sangka baik mengurangi lawan. Sangka buruk mengurangi kawan. Sangka baik menuai apresiasi. Sangka buruk mengundang klarifikasi.
Menyangka orang lain bersangka buruk terhadapnya adalah sangka buruk ganda.
Yang jadi korban kekerasan ditampilkan sebagai pelakunya. Bagi mereka, korban lebih buruk dari babi, jadi apapun yang dilakukan sah bahkan berpahala.
Sedemikian intensif dan masif propaganda pengkafiran, hingga orang terpelajar yang mestinya rasional melahap habis semua fitnah. Ironis!
Karena sudah melahap habis semua berita manipulatif tentang mereka, para pengkafir dan pensesat yang semula sangat sopan menjadi kasar dan sarkastis.
Dulu, dimana saja, masjid adalah rumah bagi siapa saja. Sekarang mencari tempat terpencil untuk shalat karena mesjid bukan tempat bagi yang “kafir” yang shalat. Tragis!
Sedemikian intensifnya penggambaran manipulatif tentang Syi’ah hingga tidak ada yang merasa perlu mengklarifikasi atau mempertanyakan motif utamanya.
Sedemikian masif pensesatan terhadap Syi’ah hingga orang-orang yang tahu secara jelas fakta sebenarnya tentang Syi’ah pun ikut-ikutan mensesatkannya depan publik.
Sedemikian intensifnya pensesatan dan terlihatnya “restu publik” hingga mengundang empati non Muslim. Saat itu pula “pengkafiran” makin gencar.
Sebagian yang mensesatkan tahu bahwa Hamas yang sunni didukung Iran yang Syi’ah, tapi karena yang tidak ikut mensesatkan akan disesatkan, mereka pun ikut.
Jangan tanya soal karir orang yang dikenal Syi’ah Buka warteg pun takkan laku. Lebih aman ngaku ateis dan agnostik ketimbang dikenal Syi’ah di sini.
Seseorang tanya, pak kapan jadi profesor? Aku jawab, boro-boro jadi prof, jadi doktor aja gak berguna bagi orang “sesat” dan “kafir abis”.
Susah menghadapi pensesatan dan pengafiran kalau penggeraknya negeri petrodolar yang memperlakukan tenaga kerja wanita negeri Muslim sebagai budak.
Sekelompok mengkafirkan. Sebagian mensesatkan. Yang lain malah menyerang. Penguasa “mingkem”. Sisanya awam yang terpengaruh. Welcome to the jungle!
Tragis tapi nyata! Yang jadi korban kekerasan ditampilkan sebagai pelakunya. Bagi mereka, kelompok ini lebih buruk dari babi. Jadi aksi apapun terhadap si kafir sah brpahala.
Silakan rampas ketenangan kami, orang-orang yang sudah terstigma SESAT DAN LEBIH KAFIR DARI ZIONIS tapi biarkan anak-anak kami bergaul dan tak dicemooh sesat!
Awam terpengaruh sekte horor spesialis pembid’ah maulid, pensyirik ziarah, pensesat Sunni dan pengkafir Syi’ah ini hanya karena di pusatnya ada Ka’bah
Tetangga-tetangga terhormat. Silakan kucilkan kami karena dianggap sesat bahkan lebih kafir dari zionis tapi biarkan anak-anak kami tenang dan tak dicemooh sesat!
Singkatnya, ambil soranga buatmu. Atau sekalian borong semua semesta untuk kalian. Kalau kurang, silakan ambil Tuhan untuk kalian saja!
Disini bila tidak mmuji seseorang yang dipuji banyak orang, dianggap pembenci. Disini bila tak memalingkan orang yang dituduh maling banyak orang, dianggap maling.
Heboh soal artis pake handuk lari dari gempa, tapi tuli, buta dan bisu soal kezaliman masif brkedok tablig terhadap segelintir Muslim dari Jakarta sampai Papua.
Dengan intoleransi yang dianggap sebagai kesalehan, belum bisa dianggap sudah berbangsa. Ini mungkin lebih mirip kumpulan orang-orang tanpa sadar jadi korban adu domba.
Perbuatan buruk dihitung dari perbuatannya. Perbuatan baik dihitung mulai dari niatnya.


Minggu, 07 Desember 2014

Ajakan Sufi untuk Bertauhid


Diri yang malang, periksalah dirimu dengan serius dan carilah obat untuk menyembuhkan bermacam penyakit ruhanimu. Sadarilah sia-sianya harga diri yang kau pertahankan dalam hatimu—sepotong kecil daging yang tidak akan memuaskan selera seekor burung itu. Makhluk-makhluk yang lemah ini sama sekali tidak memiliki kekuatan dan pujian. Mereka tidak ada artinya.
Kekuatan yang sesungguhnya harus dicari dari Pemilik sejatinya, yakni Allah; Dialah Sebab Mutlak bagi segala sebab—Sebab Akhir. Bahkan jika seluruh makhluk bekerja sama untuk menciptakan seekor lalat, maka niscaya mereka tidak akan berhasil; dan jika lalat itu menyebabkan mereka mendapat bahaya, mereka tidak akan mampu mengelak, jika Allah menghendaki demikian.
Seluruh kekuatan adalah milik Yang Mahakuasa. Dialah penggerak alam semesta. Ketika kau sedang melakukan sesuatu, tuliskan dalam hatimu dengan pena akal, “Tidak ada sebab efektif dalam dunia wujud kecuali Allah”.
Dengan segala cara, tanamkan dalam hatimu prinsip tauhîd al-af‘âli (yakni bahwa segala perbuatan di alam semesta ini adalah milik Allah), yang merupakan tingkat pertama Wahdatul Wujud; dan dengan demikian jadikan hatimu hati seorang mukmin sejati. Terangilah hatimu dengan pernyataan suci “tidak ada Tuhan selain Allah”; dan bentuklah hatimu sesuai dengannya.
Bawalah hatimu ke tingkat ketenteraman (ithmi’nân) dan sadarilah dengan hatimu bahwa makhluk manusia tidak dapat menyebabkan kebaikan atau keburukan, dan bahwa hanya Allah yang mampu melakukannya. Jernihkan pandanganmu, yang menderita kebutaan agar kau tidak dibangkitkan sebagai orang buta pada Hari Pengadilan dan mengeluh kepada Yang Mahakuasa, “Ya Tuhanku, mengapakah Kau bangkitkan aku dalam keadaan buta …?” (QS Thâ Hâ [20]: 125).
Kehendak Allah menguasai kehendak makhluk-Nya. Jika hatimu tunduk kepada sabda suci tersebut, dan meyakininya, semoga perbuatan-perbuatanmu memperoleh balasan serta seluruh jejak syirik, riya, kufr, nifâq, akan terhapus dari wajah hatimu. Keimanan yang tinggi itu selaras dengan akal dan wahyu, serta tidak ada tanda-tanda determinisme (jabr) di dalamnya.
Mungkin saja beberapa orang yang tidak mengetahui makna prinsip dasar dan kandungan determinisme akan menyalahartikannya; padahal itu bukanlah jabr tetapi tauhid. Determinisme adalah sebentuk syirik pula; sementara tauhid membimbing, determinisme menyesatkan.
[Baca: KAJIAN – Membincang Keadilan Tuhan (Bagian Pertama)]
Dalam kesempatan ini tidak tepat untuk mendiskusikan determinisme dan kebebasan. Namun, orang-orang yang memahami persoalan itu dapat mengetahui pentingnya tema ini. Lebih jauh, Rasul Saw. telah meminta kita untuk tidak berdebat tentang masalah-masalah seperti itu. Bagaimanapun, dengan doa dan permohonan yang sungguh-sungguh pada setiap saat, khususnya ketika engkau merasa sendiri, bermohonlah agar Allah membimbingmu dan mencerahkan hatimu dengan cahaya tauhid.
Mintalah kepada-Nya agar menganugerahimu pandangan tentang hal-hal yang tersembunyi, penglihatan akan kesatuan (dalam keragaman)—Wahdatul Wujud Allah sehingga kau tidak menganggap penting segala sesuatu selain Allah dan menganggap segala sesuatu itu sebagai remeh. Mohonlah kepada esensi suci-Nya untuk menjadikan perbuatanmu bersih dan ikhlas sehingga mampu membimbingmu menuju jalan cinta dan keikhlasan.
Dan, jika kau telah mencapai maqâm ruhaniah sedemikian hingga doa-doamu didengar dan dijawab oleh-Nya dan kau dapat melakukan sesuatu bagi makhluk ciptaan Allah yang lemah ini, doakanlah ia yang telah menyia-nyiakan hidupnya dalam pencarian tanpa makna, tanpa tujuan yang jelas, takluk kepada nafsu, dan syahwat; yang dosa-dosanya telah melukai hatinya sampai ke suatu titik yang tidak ada anjuran, nasihat, ayat Al-Quran, hadis Rasul Saw., argumen, atau perkataan bijak yang dapat memengaruhinya. Semoga doamu dapat menyelamatkannya. Allah tidak pernah tidak mempedulikan seorang mukmin dalam pengadilan-Nya dan Dia senantiasa mengabulkan doa-doanya.
Dengan terus-menerus mengingat semua itu, yang telah kauketahui dan bukan hal baru bagimu, tanamkanlah rasa ikhlas dan penuh perhatian dalam hatimu; dan, tanpa berhenti, nilailah kembali gerakmu, diammu, dan perilakumu. Selidikilah selalu niat-niatmu yang tersembunyi dan dengan cermat perhitungkanlah segala sesuatunya seperti seorang pengusaha menilai mitra kerjanya. Jangan melakukan apa pun yang mengandung riya dan kepura-puraan, betapapun hal itu tampak sebagai perbuatan yang sangat baik.
Bahkan dalam ibadah-ibadah wajib, jika kau tidak merasa yakin dapat melakukannya dengan ikhlas di depan umum, lakukan secara sembunyi-sembunyi, meskipun lebih utama untuk melakukannya secara terbuka. Riya jarang muncul dalam ibadah-ibadah wajib itu sendiri; lebih sering ia muncul dalam hubungannya dengan cara ibadah wajib itu dilakukan dan pada ibadah-ibadah sunnah.
Dalam hal apa pun, bersihkan hatimu dari debu syirik dengan penuh kesungguhan dan kritik diri yang paling keras. Jika, semoga Allah menghindarkannya, engkau meninggalkan dunia ini dalam keadaan seperti itu, kau akan tampil dalam bentuk yang buruk dan tidak ada harapan keselamatan bagimu. Lalu, kau akan memancing murka Allah, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis.
Rasul pernah bersabda, “Seseorang yang melakukan perbuatan yang disukai Allah dalam rangka memamerkannya kepada orang lain dan secara diam-diam perbuatan yang dibenci-Nya, maka orang itu akan mendapatkan amarah dan murka Allah (di Hari Kebangkitan).”
Ada dua kemungkinan penafsiran atas hadis tersebut, Pertama, hadis itu berbicara tentang seseorang yang menampilkan dirinya sebagai teladan sifat-sifat baik bagi orang lain, tetapi batinnya tercemar dengan sifat-sifat jahat yang buruk. Kedua, mungkin yang dibicarakan adalah seseorang yang melakukan perbuatan-perbuatan baik secara lahiriah dengan maksud riya. Terlepas dari hal itu, hadis tersebut jelas mengecam orang yang riya karena perbuatan yang disukai oleh Allah, tetapi dapat menimbulkan kemurkaan-Nya jika di dalamnya terdapat motif riya.
Ini adalah peringatan bagi kita semua untuk berhati-hati. Jika tidak, kita dapat memancing kemurkaan Raja segala raja dan Pengasih yang paling mengasihi.[]

[Baca: OPINI – Belajar Memahami Tauhid dari Rumi]